Selasa, 19 Juli 2011

Jul 02 MAKNA BASMALAH

http://1.bp.blogspot.com/_IEvCv-ozK1M/SIMkFYy23qI/AAAAAAAAAJM/kpY_0ppNLgU/s320/Basmalah%2Band%2BSalam.gif
A. DEFINISI “BASMALAH
Basmalah adalah (ungkapan) seorang hamba yang mengucapkan “Bismillaahirrohmaanirrohiim”. [Lihat Aisarut Tafasir 1/11, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, cet. Maktabatul Ulum wal Hikam, Madinah]
a. Arti secara Harfiyyah ( Bahasa ).
Basmalah adalah sebutan / nama singkat dari lafaz : “Bismillahir rohmaanir rohiim” yang artinya : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
b. Arti secara Tafsir ( Rinci ).
Arti Basmalah secara Tafsir sebagai berikut :
Ø “Dengan” maksudnya memulai sesuatu yang penting dalam agama dengan membaca Basmalah.
Ø “Nama” mempunyai dua arti tinggi dan tanda.
Ø “Allah” nama yang mencakup Zat , Sifat dan Af’al-Nya .contoh : apabila seorang yang sedang sakit menyebut : “Ya Allah” maka secara otomatis menyebut sifatNya juga yaitu “Ya Syaafi” yang artinya yang Maha “Penyembuh” dan sebagainya.
Ø “Pengasih” mengasihi semua hamba-Nya yang Mukmin dan yang Kafir tanpa kecuali hanya didunia.
Ø “Penyayang” menyayangi hanya kepada hamba-Nya yang beriman diakhirat.
Jadi, basmalah adalah sebuah ungkapan, baik berbentuk ucapan maupun tulisan.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرِّحِيْمِ
“Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
Maksud dari “Basmalah” adalah (ungkapan) seorang hamba yang (Aisarut Tafasir 1/11, Abu Bakar mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim.” Jabir al-Jazairi, cet. Maktabatul Ulum wal Hikam, Madinah) Jadi Basmalah adalah sebuah ungkapan, baik berbentuk ucapan maupun tulisan. Ia menunjuk pada sebuah ungkapan, bukan pada orang yang mengungkapkannya. Dan orang yang mengucapkan kalimat tersebut baik dengan lisan maupun tulisannya,berarti telah menyebut ungkapan basmalah.


B. MAKNA BER-“BASMALAH
Basmalah diucapkan atau dituliskan oleh orang yang mengungkapkannya bukan tanpa maksud dan tujuan. Layaknya kalimat-kalimat thoyibah yang diajarkan oleh Alloh dalam kitab-Nya maupun melalui sunah-sunah rosul-Nya pun tidak begitu saja diungkapkan tanpa maksud, tapi sangat sarat dengan maksud dan tujuan yang mulia
Seseorang yang mengungkapkannya berarti seolah ia telah mengucapkan dan bermaksud dengan ucapannya tadi bahwa ia hendak memulai aktivitasnya dengan menyebut nama Alloh serta mengingat-Nya dengan berharap keberkahan-Nya sebelum melakukan kegiatan apapun, dan dengan senantiasa memohon pertolongan-nya dalam segala urusannya, mengharap bantuan-Nya, sebab Alloh adalah Dzat Yang Maha Kuasa melakukan segala yang dikehendaki-Nya.
Sehingga tatkala seseorang hendak membaca al Qur’an dia berbasmalah, maka maknanya adalah aku mengawali bacaanku dengan memohon keberkahan nama Alloh yang maha pemurah lagi maha penyayang dengan senantiasa memohon pertolongan-Nya “. (1) Atau bermakna pemberitahuan bahwa sesungguhnya dia memaksudkannya hendak mengungkapkan; ”Aku hendak membaca (surat al-Qur’an ini) dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demikian juga ucapan seorang hamba ‘bismillah” tatkala hendak bangkit untuk tegak berdiri, atau hendak duduk, dan melakukan seluruh aktivitasnya, adalah mengabarkan makna dari maksud ucapannya itu tadi, dan bahwa ia memaksudkan dengan ucapan ‘bismillah’ adalah aku hendak berdiri dengan menyebut nama Alloh , aku hendak duduk dengan menyebut nama Alloh , demikian seterusnya pada seluruh aktivitasnya.
C. Kedudukan Basmalah.
1) Untuk memulai sesuatu pekerjaan.
“Setiap sesuatu pekerjaan yang tidak dimulai dengan Basmalah adalah terputus” (HR.Ibnu Hibban). Maksudnya, setiap pekerjaan yang tidak dimulai dengan membaca Basmalah maka kurang mendapat berkah.
Tidak semua pekerjaan diawali dengan Basmalah ada beberapa pengecualian seperti:pekerjaan yang makruh contohnya merokok, pekerjaan yang haram contohnya berzina, pekerjaan yang kotor contohnya membersihkan kotoran, pekerjaan yang sudah ditentukan oleh syariat contoh membaca Syahadat untuk orang yang Kafir masuk Islam, pekerjaan yang tidak pernah dimulai dengan Basmalah contoh bacaan dalam Shalat kecuali Al fatihah dan awal surat.
2) Syarat terkabulnya doa.
Sabda Nabi : “Tidak diterima doa yang tidak diawali oleh Basmalah”
3) Syarat diterimanya bacaan Al Fatihah didalam shalat pada Mazhab Syafi’i.
4) Syarat diterimanya penyembelihan hewan bagi orang yang kafir. ( QS.Al Maidah:5 ).
D. Hukum membaca Basmalah.
Lafadz Basmalah secara lengkap didalam Al-Qur’an ada pada dua tempat ada dalam surat An-Naml : 30 dan ada pada tiap-tiap awal surat kecuali surat Al Baroah (Attaubah) karena surat ini lebih banyak menceritakan tentang peperangan jadi tidak sesuai diawali dengan Basmalah yang terkandung sifat Rahman dan  Rahim Allah.
Semua ulama dari berbagai disiplin ilmu sepakat bahwa Basmalah dalam QS. An-Naml:30 adalah lafadz dari Al-Qur’an dan membaca Basmalah pada tiap-tiap awal surat selain surat Al Fatihah dah surat Al Baroah adalah sunah sedangkan Basmalah yang ada pada surat Al Fatihah mereka berbeda pendapat :
ü Hanafiyah dan Hanabilah : Membaca Basmalah pada awal Al fatihah adalah sunah karena Basmalah bukan termasuk ayat dari surat Al fatihah.
ü Syafiiyah : Membaca Basmalah pada awal Al fatihah wajib karena Basmalah adalah termasuk ayat dari surat Al fatihah.
ü Malikiyah : Membaca Basmalah dalam shalat fardhu hukumnya makruh, jika shalat sunah boleh membaca Basmalah dalam Al fatihah.
Membaca Basmalah pada surat Al Baroah hukumnya Makruh pendapat lain mengatakan haram.
Basmalah yang ada pada awal surat selain surat Al Fatihah dan surat Al Baroah adalah sebagai pemisah saja antara tiap-tiap surat.
E. PERINTAH DAN ANJURAN BER-“BASMALAH” DALAM AL-QUR’AN
Tatkala Alloh Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya yang mulia, Nuh ’Alaihissalaam agar menaiki perahu kapal yang telah dibuatnya atas perintah Alloh pula, maka Nabi Nuh memerintahkan kaumnya agar segera menaikinya dengan mengucapkan basmalah. Sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh
tA$s%ur (#qç7Ÿ2ö$# $pkŽÏù ÉOó¡Î0 «!$# $yg11øgxC !$yg8yöãBur 4 ¨bÎ) În1u Öqàÿtós9 ×LìÏm§ ÇÍÊÈ
Dan Nuh berkata, ”Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Alloh di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Robb-ku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” [QS. Hud (11) : 41]
Alloh Subhaanahu wa Ta’ala juga berfirman tatkala menurunkan wahyu pertama-Nya kepada Nabi Muhammad Sholalloohu ’Alaihi wa Salam,
”Bacalah dengan (menyebut) nama Robb-mu Yang Menciptakan.” [QS. Al-Alaq (96) : 1]
F. BEBERAPA FAEDAH DAN KANDUNGAN DARI ”BASMALAH”
Dengan men-tadabbur-i basmalah, yang merupakan bagian dari Al-Qur’an, maka setidaknya kita bisa dapatkan beberapa faedah yang agung lagi utama, di antaranya:
1. Lafazh ”bismillaah” terdapat faedah syari’at ber-tabarruk (mengharapkan barokah) kepada Alloh dengan nama-nama-Nya yang mana saja, sebab bila seseorang mengucapkan basmalah sebelum beraktivitas, menunjukkan ia meminta keberkahan kepada Alloh dengan nama-Nya pada aktivitasnya.
Syaikh Abdurrohman as-Sa’di Rohimahulloh dalam tafsirnya, Taisirul Karimir Rohman, mengatakan tentang makna ber-basmalah: ”Aku mengawali membaca ini dengan memohon keberkahan kepada Alloh dengan setiap nama Alloh.”
2. Lafazh ”bismillaah” juga memberi faedah bahwa seseorang itu hanya ber-tabarruk kepada Alloh saja dan tidak kepada selain-Nya.
3. Lafzhul jalalahAlloh”, ialah nama yang khusus bagi Alloh, yaitu bermakna Dzat Yang Dipertuhankan, Yang Diibadahi, Yang Berhak Diibadahi sebab keesaan-Nya, sebab adanya sifat-sifat yang Dia bersifat dengannya berupa sifat-sifat ketuhanan yang merupakan sifat kesempurnaan. [Taisirul Karimir Rohman, Abdurrohman as-Sa’di. Lihat pula Tafsir ath-Thobari 1/63].
4. Tetapnya sifat Rohmah bagi Alloh, seperti yang Alloh firmankan: ”Dan Robb-mu Maha Kaya lagi mempunyai rohmat…” [QS. Al-An’Am (6): 133]
5. Pada lafazh ”arrohmaanirrohiim” terdapat faedah tentang sifat rohmat Alloh. ”arrohmaan” berarti Dzat Pemilik Rohmat yang sangat luas, sedangkan ”arrohiim” berarti Dzat Yang Memberikan Rohmat-Nya kepada hamba-Nya yang dikehendaki.
6. Di antara bentuk rohmat Alloh kepada para hamba adalah diperolehnya berbagai kebutuhan hidup di dunia yang mencukupi para hamba, bahkan terkadang berlebihan melebihi kebutuhan mereka. Ini adalah rohmat Alloh yang bersifat umum bagi seluruh hamba-Nya yang beriman dan yang tidak beriman.
7. Di antara bentuk rohmat Alloh kepada para hamba adalah diperolehnya berbagai kebutuhan hidup yang mencukupi badan-badan mereka untuk bekal di dunia, dan diberikan sesuatu yang menegakkan dien-dien mereka untuk bekal di akhirat. Ini adalah rohmat Alloh yang bersifat khusus bagi hamba-Nya yang beriman saja.
8. Di antara bentuk rohmat Alloh kepada hamba-Nya yang beriman adalah dianjurkannya mereka ber-basmalah, yang berarti dianjurkan untuk mengharapkan barokah Alloh Dzat Yang Maha Rohmat, Yang Memiliki Kekuasaan Rohmat, dan Yang Memberikan Rohmat-Nya kepada para hamba-Nya.
9. Imam Nawawi Rohimahulloh dalam Syarah Muslim mengatakan, ”Sama saja dianjurkannya ber-basmalah ini bagi orang junub, wanita sedang haid, maupun siapa saja selain keduanya.”
10. Di antara faedah yang penting adalah, anjuran ber-basmalah merupakan anjuran berdzikir kepada Alloh Subhaanahu wa Ta’ala dan berdzikir itu adalah salah satu jenis ibadah. Oleh karenanya ia tidak dilakukan kecuali harus sesuai dengan adab-adab  berdzikir itu sendiri.
G. DIANTARA HAL-HAL YANG DIANJURKAN UNTUK MEMBACA BASMALAH BERDASARKAN WAKTU:

1. Hendak berwudhu Berdasar sabda Rosululloh:
لاَ صَلاَة َلِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak sah sholatnya orang yang tidak
berwudhu, dan tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut asma Alloh kepadanya.”(HR. Ibnu Majah 1/140/399 dan Abu Dawud 1/174/101, dihasankan oleh al-Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 320 dan dalam Irwa’ul Gholil 1/122)
2. Hendak keluar rumah Berdasarkan hadits dari sahabat Anas bahwa Nabi bersabda:
إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَي اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِيْنَئِذٍ: هُدِيْتَ وَكُفِيْتَ وَوُقِيْتَ، فَتَتَنَحَّي الشَّيَاطِيْنُ, فَيَقُوْلُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Apabila seseorang ketika keluar dari rumahnya ia berkata: ‘Dengan menyebut nama Alloh, aku bertawakkal kepada Alloh, tidak ada daya upaya dan tidak pula kekuatan selain dari Alloh.’” Maka beliau melanjutkan sabdanya: “Dikatakan ketika itu kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dipelihara.’ Sehingga setan-setan pun berhamburan meninggalkannya, kemudian ada setan yang lain yang berkata: ‘Apa yang bisa kamu dapati dari seseorang yang telah diberi petunjuk dan dicukupi serta dipelihara itu?’”(HR. Abu Dawud 4/325 dan Tirmidzi 5/490. Lihat juga Shohih Tirmidzi 3/151 dan Shohihul Jami’: 6419)
3. Hendak makan Seperti yang tersebut dalam sebuah hadits dari Ummul Mu’minin Aisyah yang berkata:
قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ : إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَاليَ، فَإِنَّ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فيِْ أَوِّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلِهِ وَأَخِرِهِ

Rosululloh bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan maka sebutlah nama Alloh Ta’ala. Kalau ia lupa menyebutnya ketika hendak memulai makan, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Dengan nama Alloh di awal dan di akhir.’”(HR. Abu Dawud 3/347 dan Tirmidzi 4/288 dan
ia berkata: “Hadits ini hasan shohih.” Dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi 2/167 dan dalam Riyadhus Sholihin Kitab Adabuth Tho’am)
4. Hendak menggauli istri, sebagaimana hadits Abdulloh bin Abbas ia berkata: Nabi telah bersabda:
أَمَّا لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ يَقُوْلُ حِيْنَ يَأْتِيْ أَهْلَهُ: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، ثُّمَّ قُدِرَ بَيْنَهُمَا فِيْ ذَلِكَ أَوْ قُضِيَ وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Adapun kalau seandainya salah seorang di antara mereka itu tatkala hendak menggauli istrinya mengucapkan: ‘Dengan menyebut nama Alloh, yaa Alloh jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan itu dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami’, lalu ditaqdirkan dia mendapat anak dari hubungannya tadi itu, tidak akan ada setan yang membahayakan anak itu selamanya.”(HR. Bukhori 1/141 dan Muslim 2/1028)


5. Hendak memasukkan mayit ke dalam kubur Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata: “Nabi Muhammad itu apabila memasukkan mayit ke dalam kuburnya berkata:
بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَي سُنَّةِ رَسُوْلِ اللََّهِ

“Dengan menyebut nama Alloh dan berdasarkan sunnah Rosululloh.”(HR. Abu Dawud 9/32/3197 dan Tirmidzi 2/255/1051 dan Ibnu Majah 1/494/1550, dishohihkan oleh al-Albani dalam Ahkamul Jana’iz hal. 152)
Dan masih banyak lagi tentunya anjuran beliau yang tidak terbatas hanya pada aktivitas yang tersebut di atas saja. Berkata syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi : “Dianjurkan bagi para hamba agar mengucapkan basmalah ketika hendak makan dan minum, juga ketika hendak memakai pakaian (dan melepasnya). Juga ketika hendak masuk dan keluar masjid, ketika hendak berkendaraan, dan bahkan ketika hendak melakukan setiap hal yang memiliki nilai arti penting.”
H. Kelebihan Basmalah
1) Yang pertama ditulis Qalam adalah Basmalah, maka apabila kamu menulis sesuatu maka tulislah Basmalah pada awalnya karena Basmalah tertulis pada pembukaan tiap-tiap wahyu yang Allah turunkan kepada Jibril.
2) Basmalah untuk-Mu dan umat-Mu, suruhlah mereka bila memohon sesuatu dengan Basmalah Aku tidak akan meninggalkannya sekejap matapun sejak Basmalah diturunkan kepada Adam“. (Hadits Qudsi)
3) Tatkala Basmalah diturunkan kedunia, maka semua awan berlarian kearah Barat, angin terdiam, air laut bergejolak ombak, mendengarkan seluruh binatang dan terlempar semua syaitan.
4) Demi Allah dan keagungan-Nya, tidaklah Basmalah itu dibacakan pada orang sakit melainkan menjadi obat untuknya dan tidaklah Basmalah dibacakan diatas sesuatu  melainkan Allah beri berkah atasnya.
5) Barangsiapa yang ingin hidup bahagia dan mati syahid, maka bacalah Basmalah setiap memulai sesuatu“.
6) Jumlah huruf dalam Basmalah, ada 19 huruf dan Malaikat penjaga neraka ada 19 (QS.AL Muddatsir:30). Ibnu Mas’ud berkata: Siapa yang ingin Allah selamatkan dari 19 malaikat neraka maka bacalah Basmalah 19 kali setiap hari .
7) Tiap huruf Basmalah, ada JUNNAH (penjaga / khadam) hingga tiap huruf berkata: Siapa yang membaca Basmalah maka kamilah kekuatannya dan kamilah kehebatannya.
8) Tidaklah orang yang memuliakan yang ada dunia ini tertulis Basmalah melainkan Allah telah mengutus malaikat yang meliputi dengan sayapnya dan seorang Wali dari beberapa wali untuk mengangkat derajatnya”.

basmalah

Bismillahirrohmaanirrohiim Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang     DEFINISI ?BASMALAH? Basmalah adalah (ungkapan) seorang hamba yang mengucapkan ?Bismillaahirrohmaanirrohiim?. [Lihat Aisarut Tafasi... [Read Post]
24 Dec 2008, 22:14 | flag share on facebook twitter
  copas dari:   Dajiyuan, 17 Des) Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat dan memberi makan, dia masih bers...
22 Dec 2008 08:56
21 Dec 2008 02:39
Kalau mau nanya-nanya masalah komputer, bisa di sini..
20 Dec 2008 04:00

fateha

faede al fatiha

basmalah

faedah basmalah

Syamsul Ma’arif al-Kubra dan kosmologi Islam klasik

ISENG-iseng, saya menemukan situs menarik, yaitu Scribd yang memuat buku-buku on-line gratis. Di sana, secara tak sengaja, saya menemukan sebuah buku yang menarik, yaitu Syamsul Ma’arif al-Kubra karangan Syekh Ahmad Ali al-Buni. Waktu saya masih di pesantren dulu, ini semacam “buku suci” dengan aura yang sangat misterius.
Persepsi populer di kalangan pesantren saya dulu, buku ini adalah semacam “primbon” yang berisi ilmu “kanuragan” atau ilmu sakti-mandraguna. Memang ada banyak pembahasan dalam buku itu yang menyangkut ilmu kesaktian. Tetapi, itu bukan satu-satunya isi buku tersebut.
Sekedar catatan ringan saja: oleh pemerintah Arab Saudi, buku ini masuk dalam daftar buku cekal, karena dianggap mengandung unsur syirik. Pemerintah Saudi bisa saja bisa mencekal buku ini saat dibawa oleh seseorang lewat bandara. Tetapi, bagaimana pencekalan itu bisa diterapkan saat buku tersebut sekarang beredar lewat internet? Dengan kata lain, ideologi “cekal” menjadi susah ditegakkan di zaman teknologi internet sekarang.
Buku ini sebetulnya menarik bagi mereka yang ingin mempelajari kosmologi Islam klasik yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Pythagoras. Salah satu pembahasan utama buku ini adalah mengenai ciri-ciri semua huruf dan “khasiat spiritual” yang ada di baliknya. Ini merupakan ilmu rahasia yang dalam masa klasik Islam pun dipelajari secara sembunyi-sembunyi.
Dalam kosmologi itu, setiap huruf abjad berhubungan dengan planet atau obyek astronomis tertentu di alam raya. Huruf bukan semacam “pananda” (signifier) yang arbitrer dan melayang-layang bebas tanpa makna orisinal tertentu, sebagaimana kita kenal dalam filsafat strukturalisme. Huruf juga bukan seperti mantra yang tak memuat beban makna apapun, seperti pernah didakwahkan oleh Penyair Sutardji Calzoum Bahri melalui manifestonya yang terkenal itu.
Dalam kosmologi Islam seperti tampak dalam buku Syekh al-Buni ini, huruf (juga angka) memiliki hubungan “misterius” yang sifatnya niscaya dengan dunia “atas” (al-’alam al-’ulwi). Tak ada yang sifatnya arbitrer dalam kehidupan ini, termasuk kode-kode bahasa yang mewakili gagasan.
Bab pertama buku ini, misalnya, berbicara tentang huruf-huruf alfabet dan rahasia serta makna yang tersimpan di dalamnya (fi al-huruf al-mu’jamah wa ma fiha min al-asrar wa al-idhmarat). Dunia dan alam raya, dalam pandangan Syekh al-Buni, adalah semacam “universum” yang saling terkait satu dengan yang lain.
Ada dunia atas (al-’alam al-’ulwi) dan dunia bawah (al-’alam al-sufli). Dunia atas, dalam istilah dia, men-supply dunia bawah, wa inna al-’alam al-’ulwi yumiddu al-’alam al-sufli. Huruf-huruf adalah representasi dari dunia atas. Memahami rahasia huruf dan angka akan membawa seseorang untuk memahami “alam lain”. Bandingkan hal ini dengan gagasan Bonaventura, seorang teolog dan santo dari Abad 13, sebagaimana tergambar dalam risalah dia yang terkenal, Itinerarium Mentis ad Deum, yakni perjalanan akal atau jiwa menuju Tuhan.
Dengan menguasai rahasia huruf dan angka, seseorang bisa memanipulasi dunia yang tak tampak. Sekilas, ada semacam hubungan yang sifatnya instrumental antara manusia dengan dunia spritual, antara dunia bawah dan dunia atas. Ini mengingatkan kita pada pengamatan Malinowski tentang “magic” sebagai bentuk lain dari “science” dalam masyarakat primitif: keduanya sebagai cara manusia untuk “mengatasi” alam yang tampak di permukaan sebagai “ketidakteraturan” (chaos) yang mencekam.
Ada sejumlah observasi yang menarik yang dikemukakan oleh al-Buni mengenai karakter huruf. Misalnya, menurut dia, ada dua jenis huruf. Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri; itulah huruf bangsa Arab. Kedua, huruf yang ditulis dari dari kiri ke kanan, yaitu huruf atau abjad bangsa Yunani, Romawi dan Koptik.
Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri mempunyai karakter khusus, yaitu ditulis secara kursif (muttashilah); waktu saya masih kecil, sering disebut dengan huruf gandeng. Ini kita lihat dalam kasus huruf Arab. Sementara itu huruf yang ditulis dari kiri ke kanan, bersifat non-kursif alias terputus-putus.
Pengamatan ini, walau cermat, tentu mengandung banyak kelemahan. Sebagaimana kita tahu, abjad Latin yang ditulis dari kiri ke kanan bisa juga ditulis secara kursif. Semantara itu, tak semua huruf yang ditulis dari kanan ke kiri bersifat kursif seperti abjad Arab. Abjad Hebrew atau bahasa Yahudi ditulis dengan cara yang sama dengan abjad Arab, yaitu dari kanan ke kiri, tetapi ia tidak bersifat kursif.
Menurut Syekh al-Buni, jumlah huruf (maksudnya tentu huruf Arab) adalah 28, plus satu huruf lain, yaitu “lam alif“. Jika yang terakhir itu dimasukkan, maka jumlah keseluruhan adalah 29 huruf. Jumlah ini paralel dengan posisi rembulan terhadap matahari dalam waktu sebulan (al-manazil al-qamariyyah). Sebagaimana kita tahu, jumlah hari dalam kalender Hijriyah yang memakai sistem lunar adalah 29 hari, bukan 30 atau 31 hari seperti dalam kalender Gregorian yang memakai sistem solar.
Di sini, kita bisa melihat dengan baik sekali bagaimana hubungan antara huruf dengan sistem astronomis. Sekali lagi, huruf bukan kode arbitrer. Ia memiliki hubungan ontologis yang sifatnya “alamiah” dan niscaya dengan fenomena alam raya.
Ilmu yang termuat dalam buku ini bukanlah ilmu biasa, tetapi ilmu spesial yang hanya layak diketahui oleh kalangan tertentu. Al-Buni membuat semacam “pagar” tertentu agar buku ini tidak jatuh pada tangan yang tak tepat atau orang yang tak kompeten. Tak heran, buku ini, waktu saya di pesantren dulu, memiliki aura mistis yang membuatnya “angker”.
Dalam pembukaan buku ini, misalnya, Syekh al-Buni dengan tegas membuat semacam “disclaimer” berikut ini: haram bagi siapa saja yang mendapatkan naskah buku saya ini untuk memberi tahu kepada orang yang tak siap untuk menerima dan memahami isinya, atau menceritakan isi buku itu di tempat yang kurang layak.
Dalam tradisi Islam klasik, tampaknya terdapat suatu pandangan bahwa ada ilmu-ilmu tertentu yang harus disembunyikan dan hanya layak diberikan kepada orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat tertentu. Pandangan semacam ini saya kira tidak hanya khas Islam, tapi juga ada pada beberapa masyarakat tradisional yang lain. Saya ingin menyebut hal ini sebagai “kosmologi mistis-feodal“.
Aura “kesucian” buku ini juga ditandai dengan beberapa hal lain. Dalam halaman yang sama, misalnya, Syekh Ali al-Buni mengatakan bahwa siapapun tak boleh “menyentuh “bukunya ini kecuali dalam keadaan suci (wa la tamussahu illa wa anta thahirun). Ilmu yang termuat dalam buku ini bukan ilmu normal, tetapi ilmu yang sangat khusus, dan karena itu harus diperlakukan secara khusus pula.
Yang menarik adalah Syekh al-Buni memakai isitilah “menyentuh”. Bagaimana istilah itu harus dipahami dalam konteks dunia digital? Teks buku al-Buni itu sekarang sudah berubah dalam bentuk file PDF yang melayang-layang secara bebas di dunia virtual. Apakah anda harus bersuci dulu saat mau membuka komputer untuk meng-akses data buku tersebut?
Penemuan mesin cetak Guttenberg dan teknologi digital saat ini telah mengubah konsep masyarakat tentang buku dan teks. Secara umum telah terjadi semacam “sekularisasi teks” melalui demokratisasi akses kepada buku. Aura kemisteriusan sebuh buku menjadi hilang sama sekali. Apakah ini bagian dari “hilangnya pesona dunia” (disenchantment of the world) seperti pernah disebut oleh Weber itu?
Kosomologi seperti tergambar dalam buku ini mungkin sudah tak dikenal lagi oleh kalangan santri atau umat Islam pada umumnya saat ini. Mereka tentu akan menganggap buku ini sebagai semacam “klenik” atau “superstition“. Kosmologi Kopernikan atau Newtonian lebih menarik bagi umat Islam sekarang. Dalam konteks kosmologi modern ini, buku seperti Syamsul Ma’arif al-Kubra sudah kelihatan aneh.[]
ISENG-iseng, saya menemukan situs menarik, yaitu Scribd yang memuat buku-buku on-line gratis. Di sana, secara tak sengaja, saya menemukan sebuah buku yang menarik, yaitu Syamsul Ma’arif al-Kubra karangan Syekh Ahmad Ali al-Buni. Waktu saya masih di pesantren dulu, ini semacam “buku suci” dengan aura yang sangat misterius.
Persepsi populer di kalangan pesantren saya dulu, buku ini adalah semacam “primbon” yang berisi ilmu “kanuragan” atau ilmu sakti-mandraguna. Memang ada banyak pembahasan dalam buku itu yang menyangkut ilmu kesaktian. Tetapi, itu bukan satu-satunya isi buku tersebut.
Sekedar catatan ringan saja: oleh pemerintah Arab Saudi, buku ini masuk dalam daftar buku cekal, karena dianggap mengandung unsur syirik. Pemerintah Saudi bisa saja bisa mencekal buku ini saat dibawa oleh seseorang lewat bandara. Tetapi, bagaimana pencekalan itu bisa diterapkan saat buku tersebut sekarang beredar lewat internet? Dengan kata lain, ideologi “cekal” menjadi susah ditegakkan di zaman teknologi internet sekarang.
Buku ini sebetulnya menarik bagi mereka yang ingin mempelajari kosmologi Islam klasik yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Pythagoras. Salah satu pembahasan utama buku ini adalah mengenai ciri-ciri semua huruf dan “khasiat spiritual” yang ada di baliknya. Ini merupakan ilmu rahasia yang dalam masa klasik Islam pun dipelajari secara sembunyi-sembunyi.
Dalam kosmologi itu, setiap huruf abjad berhubungan dengan planet atau obyek astronomis tertentu di alam raya. Huruf bukan semacam “pananda” (signifier) yang arbitrer dan melayang-layang bebas tanpa makna orisinal tertentu, sebagaimana kita kenal dalam filsafat strukturalisme. Huruf juga bukan seperti mantra yang tak memuat beban makna apapun, seperti pernah didakwahkan oleh Penyair Sutardji Calzoum Bahri melalui manifestonya yang terkenal itu.
Dalam kosmologi Islam seperti tampak dalam buku Syekh al-Buni ini, huruf (juga angka) memiliki hubungan “misterius” yang sifatnya niscaya dengan dunia “atas” (al-’alam al-’ulwi). Tak ada yang sifatnya arbitrer dalam kehidupan ini, termasuk kode-kode bahasa yang mewakili gagasan.
Bab pertama buku ini, misalnya, berbicara tentang huruf-huruf alfabet dan rahasia serta makna yang tersimpan di dalamnya (fi al-huruf al-mu’jamah wa ma fiha min al-asrar wa al-idhmarat). Dunia dan alam raya, dalam pandangan Syekh al-Buni, adalah semacam “universum” yang saling terkait satu dengan yang lain.
Ada dunia atas (al-’alam al-’ulwi) dan dunia bawah (al-’alam al-sufli). Dunia atas, dalam istilah dia, men-supply dunia bawah, wa inna al-’alam al-’ulwi yumiddu al-’alam al-sufli. Huruf-huruf adalah representasi dari dunia atas. Memahami rahasia huruf dan angka akan membawa seseorang untuk memahami “alam lain”. Bandingkan hal ini dengan gagasan Bonaventura, seorang teolog dan santo dari Abad 13, sebagaimana tergambar dalam risalah dia yang terkenal, Itinerarium Mentis ad Deum, yakni perjalanan akal atau jiwa menuju Tuhan.
Dengan menguasai rahasia huruf dan angka, seseorang bisa memanipulasi dunia yang tak tampak. Sekilas, ada semacam hubungan yang sifatnya instrumental antara manusia dengan dunia spritual, antara dunia bawah dan dunia atas. Ini mengingatkan kita pada pengamatan Malinowski tentang “magic” sebagai bentuk lain dari “science” dalam masyarakat primitif: keduanya sebagai cara manusia untuk “mengatasi” alam yang tampak di permukaan sebagai “ketidakteraturan” (chaos) yang mencekam.
Ada sejumlah observasi yang menarik yang dikemukakan oleh al-Buni mengenai karakter huruf. Misalnya, menurut dia, ada dua jenis huruf. Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri; itulah huruf bangsa Arab. Kedua, huruf yang ditulis dari dari kiri ke kanan, yaitu huruf atau abjad bangsa Yunani, Romawi dan Koptik.
Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri mempunyai karakter khusus, yaitu ditulis secara kursif (muttashilah); waktu saya masih kecil, sering disebut dengan huruf gandeng. Ini kita lihat dalam kasus huruf Arab. Sementara itu huruf yang ditulis dari kiri ke kanan, bersifat non-kursif alias terputus-putus.
Pengamatan ini, walau cermat, tentu mengandung banyak kelemahan. Sebagaimana kita tahu, abjad Latin yang ditulis dari kiri ke kanan bisa juga ditulis secara kursif. Semantara itu, tak semua huruf yang ditulis dari kanan ke kiri bersifat kursif seperti abjad Arab. Abjad Hebrew atau bahasa Yahudi ditulis dengan cara yang sama dengan abjad Arab, yaitu dari kanan ke kiri, tetapi ia tidak bersifat kursif.
Menurut Syekh al-Buni, jumlah huruf (maksudnya tentu huruf Arab) adalah 28, plus satu huruf lain, yaitu “lam alif“. Jika yang terakhir itu dimasukkan, maka jumlah keseluruhan adalah 29 huruf. Jumlah ini paralel dengan posisi rembulan terhadap matahari dalam waktu sebulan (al-manazil al-qamariyyah). Sebagaimana kita tahu, jumlah hari dalam kalender Hijriyah yang memakai sistem lunar adalah 29 hari, bukan 30 atau 31 hari seperti dalam kalender Gregorian yang memakai sistem solar.
Di sini, kita bisa melihat dengan baik sekali bagaimana hubungan antara huruf dengan sistem astronomis. Sekali lagi, huruf bukan kode arbitrer. Ia memiliki hubungan ontologis yang sifatnya “alamiah” dan niscaya dengan fenomena alam raya.
Ilmu yang termuat dalam buku ini bukanlah ilmu biasa, tetapi ilmu spesial yang hanya layak diketahui oleh kalangan tertentu. Al-Buni membuat semacam “pagar” tertentu agar buku ini tidak jatuh pada tangan yang tak tepat atau orang yang tak kompeten. Tak heran, buku ini, waktu saya di pesantren dulu, memiliki aura mistis yang membuatnya “angker”.
Dalam pembukaan buku ini, misalnya, Syekh al-Buni dengan tegas membuat semacam “disclaimer” berikut ini: haram bagi siapa saja yang mendapatkan naskah buku saya ini untuk memberi tahu kepada orang yang tak siap untuk menerima dan memahami isinya, atau menceritakan isi buku itu di tempat yang kurang layak.
Dalam tradisi Islam klasik, tampaknya terdapat suatu pandangan bahwa ada ilmu-ilmu tertentu yang harus disembunyikan dan hanya layak diberikan kepada orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat tertentu. Pandangan semacam ini saya kira tidak hanya khas Islam, tapi juga ada pada beberapa masyarakat tradisional yang lain. Saya ingin menyebut hal ini sebagai “kosmologi mistis-feodal“.
Aura “kesucian” buku ini juga ditandai dengan beberapa hal lain. Dalam halaman yang sama, misalnya, Syekh Ali al-Buni mengatakan bahwa siapapun tak boleh “menyentuh “bukunya ini kecuali dalam keadaan suci (wa la tamussahu illa wa anta thahirun). Ilmu yang termuat dalam buku ini bukan ilmu normal, tetapi ilmu yang sangat khusus, dan karena itu harus diperlakukan secara khusus pula.
Yang menarik adalah Syekh al-Buni memakai isitilah “menyentuh”. Bagaimana istilah itu harus dipahami dalam konteks dunia digital? Teks buku al-Buni itu sekarang sudah berubah dalam bentuk file PDF yang melayang-layang secara bebas di dunia virtual. Apakah anda harus bersuci dulu saat mau membuka komputer untuk meng-akses data buku tersebut?
Penemuan mesin cetak Guttenberg dan teknologi digital saat ini telah mengubah konsep masyarakat tentang buku dan teks. Secara umum telah terjadi semacam “sekularisasi teks” melalui demokratisasi akses kepada buku. Aura kemisteriusan sebuh buku menjadi hilang sama sekali. Apakah ini bagian dari “hilangnya pesona dunia” (disenchantment of the world) seperti pernah disebut oleh Weber itu?
Kosomologi seperti tergambar dalam buku ini mungkin sudah tak dikenal lagi oleh kalangan santri atau umat Islam pada umumnya saat ini. Mereka tentu akan menganggap buku ini sebagai semacam “klenik” atau “superstition“. Kosmologi Kopernikan atau Newtonian lebih menarik bagi umat Islam sekarang. Dalam konteks kosmologi modern ini, buku seperti Syamsul Ma’arif al-Kubra sudah kelihatan aneh.[]
ISENG-iseng, saya menemukan situs menarik, yaitu Scribd yang memuat buku-buku on-line gratis. Di sana, secara tak sengaja, saya menemukan sebuah buku yang menarik, yaitu Syamsul Ma’arif al-Kubra karangan Syekh Ahmad Ali al-Buni. Waktu saya masih di pesantren dulu, ini semacam “buku suci” dengan aura yang sangat misterius.
Persepsi populer di kalangan pesantren saya dulu, buku ini adalah semacam “primbon” yang berisi ilmu “kanuragan” atau ilmu sakti-mandraguna. Memang ada banyak pembahasan dalam buku itu yang menyangkut ilmu kesaktian. Tetapi, itu bukan satu-satunya isi buku tersebut.
Sekedar catatan ringan saja: oleh pemerintah Arab Saudi, buku ini masuk dalam daftar buku cekal, karena dianggap mengandung unsur syirik. Pemerintah Saudi bisa saja bisa mencekal buku ini saat dibawa oleh seseorang lewat bandara. Tetapi, bagaimana pencekalan itu bisa diterapkan saat buku tersebut sekarang beredar lewat internet? Dengan kata lain, ideologi “cekal” menjadi susah ditegakkan di zaman teknologi internet sekarang.
Buku ini sebetulnya menarik bagi mereka yang ingin mempelajari kosmologi Islam klasik yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Pythagoras. Salah satu pembahasan utama buku ini adalah mengenai ciri-ciri semua huruf dan “khasiat spiritual” yang ada di baliknya. Ini merupakan ilmu rahasia yang dalam masa klasik Islam pun dipelajari secara sembunyi-sembunyi.
Dalam kosmologi itu, setiap huruf abjad berhubungan dengan planet atau obyek astronomis tertentu di alam raya. Huruf bukan semacam “pananda” (signifier) yang arbitrer dan melayang-layang bebas tanpa makna orisinal tertentu, sebagaimana kita kenal dalam filsafat strukturalisme. Huruf juga bukan seperti mantra yang tak memuat beban makna apapun, seperti pernah didakwahkan oleh Penyair Sutardji Calzoum Bahri melalui manifestonya yang terkenal itu.
Dalam kosmologi Islam seperti tampak dalam buku Syekh al-Buni ini, huruf (juga angka) memiliki hubungan “misterius” yang sifatnya niscaya dengan dunia “atas” (al-’alam al-’ulwi). Tak ada yang sifatnya arbitrer dalam kehidupan ini, termasuk kode-kode bahasa yang mewakili gagasan.
Bab pertama buku ini, misalnya, berbicara tentang huruf-huruf alfabet dan rahasia serta makna yang tersimpan di dalamnya (fi al-huruf al-mu’jamah wa ma fiha min al-asrar wa al-idhmarat). Dunia dan alam raya, dalam pandangan Syekh al-Buni, adalah semacam “universum” yang saling terkait satu dengan yang lain.
Ada dunia atas (al-’alam al-’ulwi) dan dunia bawah (al-’alam al-sufli). Dunia atas, dalam istilah dia, men-supply dunia bawah, wa inna al-’alam al-’ulwi yumiddu al-’alam al-sufli. Huruf-huruf adalah representasi dari dunia atas. Memahami rahasia huruf dan angka akan membawa seseorang untuk memahami “alam lain”. Bandingkan hal ini dengan gagasan Bonaventura, seorang teolog dan santo dari Abad 13, sebagaimana tergambar dalam risalah dia yang terkenal, Itinerarium Mentis ad Deum, yakni perjalanan akal atau jiwa menuju Tuhan.
Dengan menguasai rahasia huruf dan angka, seseorang bisa memanipulasi dunia yang tak tampak. Sekilas, ada semacam hubungan yang sifatnya instrumental antara manusia dengan dunia spritual, antara dunia bawah dan dunia atas. Ini mengingatkan kita pada pengamatan Malinowski tentang “magic” sebagai bentuk lain dari “science” dalam masyarakat primitif: keduanya sebagai cara manusia untuk “mengatasi” alam yang tampak di permukaan sebagai “ketidakteraturan” (chaos) yang mencekam.
Ada sejumlah observasi yang menarik yang dikemukakan oleh al-Buni mengenai karakter huruf. Misalnya, menurut dia, ada dua jenis huruf. Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri; itulah huruf bangsa Arab. Kedua, huruf yang ditulis dari dari kiri ke kanan, yaitu huruf atau abjad bangsa Yunani, Romawi dan Koptik.
Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri mempunyai karakter khusus, yaitu ditulis secara kursif (muttashilah); waktu saya masih kecil, sering disebut dengan huruf gandeng. Ini kita lihat dalam kasus huruf Arab. Sementara itu huruf yang ditulis dari kiri ke kanan, bersifat non-kursif alias terputus-putus.
Pengamatan ini, walau cermat, tentu mengandung banyak kelemahan. Sebagaimana kita tahu, abjad Latin yang ditulis dari kiri ke kanan bisa juga ditulis secara kursif. Semantara itu, tak semua huruf yang ditulis dari kanan ke kiri bersifat kursif seperti abjad Arab. Abjad Hebrew atau bahasa Yahudi ditulis dengan cara yang sama dengan abjad Arab, yaitu dari kanan ke kiri, tetapi ia tidak bersifat kursif.
Menurut Syekh al-Buni, jumlah huruf (maksudnya tentu huruf Arab) adalah 28, plus satu huruf lain, yaitu “lam alif“. Jika yang terakhir itu dimasukkan, maka jumlah keseluruhan adalah 29 huruf. Jumlah ini paralel dengan posisi rembulan terhadap matahari dalam waktu sebulan (al-manazil al-qamariyyah). Sebagaimana kita tahu, jumlah hari dalam kalender Hijriyah yang memakai sistem lunar adalah 29 hari, bukan 30 atau 31 hari seperti dalam kalender Gregorian yang memakai sistem solar.
Di sini, kita bisa melihat dengan baik sekali bagaimana hubungan antara huruf dengan sistem astronomis. Sekali lagi, huruf bukan kode arbitrer. Ia memiliki hubungan ontologis yang sifatnya “alamiah” dan niscaya dengan fenomena alam raya.
Ilmu yang termuat dalam buku ini bukanlah ilmu biasa, tetapi ilmu spesial yang hanya layak diketahui oleh kalangan tertentu. Al-Buni membuat semacam “pagar” tertentu agar buku ini tidak jatuh pada tangan yang tak tepat atau orang yang tak kompeten. Tak heran, buku ini, waktu saya di pesantren dulu, memiliki aura mistis yang membuatnya “angker”.
Dalam pembukaan buku ini, misalnya, Syekh al-Buni dengan tegas membuat semacam “disclaimer” berikut ini: haram bagi siapa saja yang mendapatkan naskah buku saya ini untuk memberi tahu kepada orang yang tak siap untuk menerima dan memahami isinya, atau menceritakan isi buku itu di tempat yang kurang layak.
Dalam tradisi Islam klasik, tampaknya terdapat suatu pandangan bahwa ada ilmu-ilmu tertentu yang harus disembunyikan dan hanya layak diberikan kepada orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat tertentu. Pandangan semacam ini saya kira tidak hanya khas Islam, tapi juga ada pada beberapa masyarakat tradisional yang lain. Saya ingin menyebut hal ini sebagai “kosmologi mistis-feodal“.
Aura “kesucian” buku ini juga ditandai dengan beberapa hal lain. Dalam halaman yang sama, misalnya, Syekh Ali al-Buni mengatakan bahwa siapapun tak boleh “menyentuh “bukunya ini kecuali dalam keadaan suci (wa la tamussahu illa wa anta thahirun). Ilmu yang termuat dalam buku ini bukan ilmu normal, tetapi ilmu yang sangat khusus, dan karena itu harus diperlakukan secara khusus pula.
Yang menarik adalah Syekh al-Buni memakai isitilah “menyentuh”. Bagaimana istilah itu harus dipahami dalam konteks dunia digital? Teks buku al-Buni itu sekarang sudah berubah dalam bentuk file PDF yang melayang-layang secara bebas di dunia virtual. Apakah anda harus bersuci dulu saat mau membuka komputer untuk meng-akses data buku tersebut?
Penemuan mesin cetak Guttenberg dan teknologi digital saat ini telah mengubah konsep masyarakat tentang buku dan teks. Secara umum telah terjadi semacam “sekularisasi teks” melalui demokratisasi akses kepada buku. Aura kemisteriusan sebuh buku menjadi hilang sama sekali. Apakah ini bagian dari “hilangnya pesona dunia” (disenchantment of the world) seperti pernah disebut oleh Weber itu?
Kosomologi seperti tergambar dalam buku ini mungkin sudah tak dikenal lagi oleh kalangan santri atau umat Islam pada umumnya saat ini. Mereka tentu akan menganggap buku ini sebagai semacam “klenik” atau “superstition“. Kosmologi Kopernikan atau Newtonian lebih menarik bagi umat Islam sekarang. Dalam konteks kosmologi modern ini, buku seperti Syamsul Ma’arif al-Kubra sudah kelihatan aneh.[]
ISENG-iseng, saya menemukan situs menarik, yaitu Scribd yang memuat buku-buku on-line gratis. Di sana, secara tak sengaja, saya menemukan sebuah buku yang menarik, yaitu Syamsul Ma’arif al-Kubra karangan Syekh Ahmad Ali al-Buni. Waktu saya masih di pesantren dulu, ini semacam “buku suci” dengan aura yang sangat misterius.
Persepsi populer di kalangan pesantren saya dulu, buku ini adalah semacam “primbon” yang berisi ilmu “kanuragan” atau ilmu sakti-mandraguna. Memang ada banyak pembahasan dalam buku itu yang menyangkut ilmu kesaktian. Tetapi, itu bukan satu-satunya isi buku tersebut.
Sekedar catatan ringan saja: oleh pemerintah Arab Saudi, buku ini masuk dalam daftar buku cekal, karena dianggap mengandung unsur syirik. Pemerintah Saudi bisa saja bisa mencekal buku ini saat dibawa oleh seseorang lewat bandara. Tetapi, bagaimana pencekalan itu bisa diterapkan saat buku tersebut sekarang beredar lewat internet? Dengan kata lain, ideologi “cekal” menjadi susah ditegakkan di zaman teknologi internet sekarang.
Buku ini sebetulnya menarik bagi mereka yang ingin mempelajari kosmologi Islam klasik yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Pythagoras. Salah satu pembahasan utama buku ini adalah mengenai ciri-ciri semua huruf dan “khasiat spiritual” yang ada di baliknya. Ini merupakan ilmu rahasia yang dalam masa klasik Islam pun dipelajari secara sembunyi-sembunyi.
Dalam kosmologi itu, setiap huruf abjad berhubungan dengan planet atau obyek astronomis tertentu di alam raya. Huruf bukan semacam “pananda” (signifier) yang arbitrer dan melayang-layang bebas tanpa makna orisinal tertentu, sebagaimana kita kenal dalam filsafat strukturalisme. Huruf juga bukan seperti mantra yang tak memuat beban makna apapun, seperti pernah didakwahkan oleh Penyair Sutardji Calzoum Bahri melalui manifestonya yang terkenal itu.
Dalam kosmologi Islam seperti tampak dalam buku Syekh al-Buni ini, huruf (juga angka) memiliki hubungan “misterius” yang sifatnya niscaya dengan dunia “atas” (al-’alam al-’ulwi). Tak ada yang sifatnya arbitrer dalam kehidupan ini, termasuk kode-kode bahasa yang mewakili gagasan.
Bab pertama buku ini, misalnya, berbicara tentang huruf-huruf alfabet dan rahasia serta makna yang tersimpan di dalamnya (fi al-huruf al-mu’jamah wa ma fiha min al-asrar wa al-idhmarat). Dunia dan alam raya, dalam pandangan Syekh al-Buni, adalah semacam “universum” yang saling terkait satu dengan yang lain.
Ada dunia atas (al-’alam al-’ulwi) dan dunia bawah (al-’alam al-sufli). Dunia atas, dalam istilah dia, men-supply dunia bawah, wa inna al-’alam al-’ulwi yumiddu al-’alam al-sufli. Huruf-huruf adalah representasi dari dunia atas. Memahami rahasia huruf dan angka akan membawa seseorang untuk memahami “alam lain”. Bandingkan hal ini dengan gagasan Bonaventura, seorang teolog dan santo dari Abad 13, sebagaimana tergambar dalam risalah dia yang terkenal, Itinerarium Mentis ad Deum, yakni perjalanan akal atau jiwa menuju Tuhan.
Dengan menguasai rahasia huruf dan angka, seseorang bisa memanipulasi dunia yang tak tampak. Sekilas, ada semacam hubungan yang sifatnya instrumental antara manusia dengan dunia spritual, antara dunia bawah dan dunia atas. Ini mengingatkan kita pada pengamatan Malinowski tentang “magic” sebagai bentuk lain dari “science” dalam masyarakat primitif: keduanya sebagai cara manusia untuk “mengatasi” alam yang tampak di permukaan sebagai “ketidakteraturan” (chaos) yang mencekam.
Ada sejumlah observasi yang menarik yang dikemukakan oleh al-Buni mengenai karakter huruf. Misalnya, menurut dia, ada dua jenis huruf. Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri; itulah huruf bangsa Arab. Kedua, huruf yang ditulis dari dari kiri ke kanan, yaitu huruf atau abjad bangsa Yunani, Romawi dan Koptik.
Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri mempunyai karakter khusus, yaitu ditulis secara kursif (muttashilah); waktu saya masih kecil, sering disebut dengan huruf gandeng. Ini kita lihat dalam kasus huruf Arab. Sementara itu huruf yang ditulis dari kiri ke kanan, bersifat non-kursif alias terputus-putus.
Pengamatan ini, walau cermat, tentu mengandung banyak kelemahan. Sebagaimana kita tahu, abjad Latin yang ditulis dari kiri ke kanan bisa juga ditulis secara kursif. Semantara itu, tak semua huruf yang ditulis dari kanan ke kiri bersifat kursif seperti abjad Arab. Abjad Hebrew atau bahasa Yahudi ditulis dengan cara yang sama dengan abjad Arab, yaitu dari kanan ke kiri, tetapi ia tidak bersifat kursif.
Menurut Syekh al-Buni, jumlah huruf (maksudnya tentu huruf Arab) adalah 28, plus satu huruf lain, yaitu “lam alif“. Jika yang terakhir itu dimasukkan, maka jumlah keseluruhan adalah 29 huruf. Jumlah ini paralel dengan posisi rembulan terhadap matahari dalam waktu sebulan (al-manazil al-qamariyyah). Sebagaimana kita tahu, jumlah hari dalam kalender Hijriyah yang memakai sistem lunar adalah 29 hari, bukan 30 atau 31 hari seperti dalam kalender Gregorian yang memakai sistem solar.
Di sini, kita bisa melihat dengan baik sekali bagaimana hubungan antara huruf dengan sistem astronomis. Sekali lagi, huruf bukan kode arbitrer. Ia memiliki hubungan ontologis yang sifatnya “alamiah” dan niscaya dengan fenomena alam raya.
Ilmu yang termuat dalam buku ini bukanlah ilmu biasa, tetapi ilmu spesial yang hanya layak diketahui oleh kalangan tertentu. Al-Buni membuat semacam “pagar” tertentu agar buku ini tidak jatuh pada tangan yang tak tepat atau orang yang tak kompeten. Tak heran, buku ini, waktu saya di pesantren dulu, memiliki aura mistis yang membuatnya “angker”.
Dalam pembukaan buku ini, misalnya, Syekh al-Buni dengan tegas membuat semacam “disclaimer” berikut ini: haram bagi siapa saja yang mendapatkan naskah buku saya ini untuk memberi tahu kepada orang yang tak siap untuk menerima dan memahami isinya, atau menceritakan isi buku itu di tempat yang kurang layak.
Dalam tradisi Islam klasik, tampaknya terdapat suatu pandangan bahwa ada ilmu-ilmu tertentu yang harus disembunyikan dan hanya layak diberikan kepada orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat tertentu. Pandangan semacam ini saya kira tidak hanya khas Islam, tapi juga ada pada beberapa masyarakat tradisional yang lain. Saya ingin menyebut hal ini sebagai “kosmologi mistis-feodal“.
Aura “kesucian” buku ini juga ditandai dengan beberapa hal lain. Dalam halaman yang sama, misalnya, Syekh Ali al-Buni mengatakan bahwa siapapun tak boleh “menyentuh “bukunya ini kecuali dalam keadaan suci (wa la tamussahu illa wa anta thahirun). Ilmu yang termuat dalam buku ini bukan ilmu normal, tetapi ilmu yang sangat khusus, dan karena itu harus diperlakukan secara khusus pula.
Yang menarik adalah Syekh al-Buni memakai isitilah “menyentuh”. Bagaimana istilah itu harus dipahami dalam konteks dunia digital? Teks buku al-Buni itu sekarang sudah berubah dalam bentuk file PDF yang melayang-layang secara bebas di dunia virtual. Apakah anda harus bersuci dulu saat mau membuka komputer untuk meng-akses data buku tersebut?
Penemuan mesin cetak Guttenberg dan teknologi digital saat ini telah mengubah konsep masyarakat tentang buku dan teks. Secara umum telah terjadi semacam “sekularisasi teks” melalui demokratisasi akses kepada buku. Aura kemisteriusan sebuh buku menjadi hilang sama sekali. Apakah ini bagian dari “hilangnya pesona dunia” (disenchantment of the world) seperti pernah disebut oleh Weber itu?
Kosomologi seperti tergambar dalam buku ini mungkin sudah tak dikenal lagi oleh kalangan santri atau umat Islam pada umumnya saat ini. Mereka tentu akan menganggap buku ini sebagai semacam “klenik” atau “superstition“. Kosmologi Kopernikan atau Newtonian lebih menarik bagi umat Islam sekarang. Dalam konteks kosmologi modern ini, buku seperti Syamsul Ma’arif al-Kubra sudah kelihatan aneh.[]
ISENG-iseng, saya menemukan situs menarik, yaitu Scribd yang memuat buku-buku on-line gratis. Di sana, secara tak sengaja, saya menemukan sebuah buku yang menarik, yaitu Syamsul Ma’arif al-Kubra karangan Syekh Ahmad Ali al-Buni. Waktu saya masih di pesantren dulu, ini semacam “buku suci” dengan aura yang sangat misterius.
Persepsi populer di kalangan pesantren saya dulu, buku ini adalah semacam “primbon” yang berisi ilmu “kanuragan” atau ilmu sakti-mandraguna. Memang ada banyak pembahasan dalam buku itu yang menyangkut ilmu kesaktian. Tetapi, itu bukan satu-satunya isi buku tersebut.
Sekedar catatan ringan saja: oleh pemerintah Arab Saudi, buku ini masuk dalam daftar buku cekal, karena dianggap mengandung unsur syirik. Pemerintah Saudi bisa saja bisa mencekal buku ini saat dibawa oleh seseorang lewat bandara. Tetapi, bagaimana pencekalan itu bisa diterapkan saat buku tersebut sekarang beredar lewat internet? Dengan kata lain, ideologi “cekal” menjadi susah ditegakkan di zaman teknologi internet sekarang.
Buku ini sebetulnya menarik bagi mereka yang ingin mempelajari kosmologi Islam klasik yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Pythagoras. Salah satu pembahasan utama buku ini adalah mengenai ciri-ciri semua huruf dan “khasiat spiritual” yang ada di baliknya. Ini merupakan ilmu rahasia yang dalam masa klasik Islam pun dipelajari secara sembunyi-sembunyi.
Dalam kosmologi itu, setiap huruf abjad berhubungan dengan planet atau obyek astronomis tertentu di alam raya. Huruf bukan semacam “pananda” (signifier) yang arbitrer dan melayang-layang bebas tanpa makna orisinal tertentu, sebagaimana kita kenal dalam filsafat strukturalisme. Huruf juga bukan seperti mantra yang tak memuat beban makna apapun, seperti pernah didakwahkan oleh Penyair Sutardji Calzoum Bahri melalui manifestonya yang terkenal itu.
Dalam kosmologi Islam seperti tampak dalam buku Syekh al-Buni ini, huruf (juga angka) memiliki hubungan “misterius” yang sifatnya niscaya dengan dunia “atas” (al-’alam al-’ulwi). Tak ada yang sifatnya arbitrer dalam kehidupan ini, termasuk kode-kode bahasa yang mewakili gagasan.
Bab pertama buku ini, misalnya, berbicara tentang huruf-huruf alfabet dan rahasia serta makna yang tersimpan di dalamnya (fi al-huruf al-mu’jamah wa ma fiha min al-asrar wa al-idhmarat). Dunia dan alam raya, dalam pandangan Syekh al-Buni, adalah semacam “universum” yang saling terkait satu dengan yang lain.
Ada dunia atas (al-’alam al-’ulwi) dan dunia bawah (al-’alam al-sufli). Dunia atas, dalam istilah dia, men-supply dunia bawah, wa inna al-’alam al-’ulwi yumiddu al-’alam al-sufli. Huruf-huruf adalah representasi dari dunia atas. Memahami rahasia huruf dan angka akan membawa seseorang untuk memahami “alam lain”. Bandingkan hal ini dengan gagasan Bonaventura, seorang teolog dan santo dari Abad 13, sebagaimana tergambar dalam risalah dia yang terkenal, Itinerarium Mentis ad Deum, yakni perjalanan akal atau jiwa menuju Tuhan.
Dengan menguasai rahasia huruf dan angka, seseorang bisa memanipulasi dunia yang tak tampak. Sekilas, ada semacam hubungan yang sifatnya instrumental antara manusia dengan dunia spritual, antara dunia bawah dan dunia atas. Ini mengingatkan kita pada pengamatan Malinowski tentang “magic” sebagai bentuk lain dari “science” dalam masyarakat primitif: keduanya sebagai cara manusia untuk “mengatasi” alam yang tampak di permukaan sebagai “ketidakteraturan” (chaos) yang mencekam.
Ada sejumlah observasi yang menarik yang dikemukakan oleh al-Buni mengenai karakter huruf. Misalnya, menurut dia, ada dua jenis huruf. Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri; itulah huruf bangsa Arab. Kedua, huruf yang ditulis dari dari kiri ke kanan, yaitu huruf atau abjad bangsa Yunani, Romawi dan Koptik.
Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri mempunyai karakter khusus, yaitu ditulis secara kursif (muttashilah); waktu saya masih kecil, sering disebut dengan huruf gandeng. Ini kita lihat dalam kasus huruf Arab. Sementara itu huruf yang ditulis dari kiri ke kanan, bersifat non-kursif alias terputus-putus.
Pengamatan ini, walau cermat, tentu mengandung banyak kelemahan. Sebagaimana kita tahu, abjad Latin yang ditulis dari kiri ke kanan bisa juga ditulis secara kursif. Semantara itu, tak semua huruf yang ditulis dari kanan ke kiri bersifat kursif seperti abjad Arab. Abjad Hebrew atau bahasa Yahudi ditulis dengan cara yang sama dengan abjad Arab, yaitu dari kanan ke kiri, tetapi ia tidak bersifat kursif.
Menurut Syekh al-Buni, jumlah huruf (maksudnya tentu huruf Arab) adalah 28, plus satu huruf lain, yaitu “lam alif“. Jika yang terakhir itu dimasukkan, maka jumlah keseluruhan adalah 29 huruf. Jumlah ini paralel dengan posisi rembulan terhadap matahari dalam waktu sebulan (al-manazil al-qamariyyah). Sebagaimana kita tahu, jumlah hari dalam kalender Hijriyah yang memakai sistem lunar adalah 29 hari, bukan 30 atau 31 hari seperti dalam kalender Gregorian yang memakai sistem solar.
Di sini, kita bisa melihat dengan baik sekali bagaimana hubungan antara huruf dengan sistem astronomis. Sekali lagi, huruf bukan kode arbitrer. Ia memiliki hubungan ontologis yang sifatnya “alamiah” dan niscaya dengan fenomena alam raya.
Ilmu yang termuat dalam buku ini bukanlah ilmu biasa, tetapi ilmu spesial yang hanya layak diketahui oleh kalangan tertentu. Al-Buni membuat semacam “pagar” tertentu agar buku ini tidak jatuh pada tangan yang tak tepat atau orang yang tak kompeten. Tak heran, buku ini, waktu saya di pesantren dulu, memiliki aura mistis yang membuatnya “angker”.
Dalam pembukaan buku ini, misalnya, Syekh al-Buni dengan tegas membuat semacam “disclaimer” berikut ini: haram bagi siapa saja yang mendapatkan naskah buku saya ini untuk memberi tahu kepada orang yang tak siap untuk menerima dan memahami isinya, atau menceritakan isi buku itu di tempat yang kurang layak.
Dalam tradisi Islam klasik, tampaknya terdapat suatu pandangan bahwa ada ilmu-ilmu tertentu yang harus disembunyikan dan hanya layak diberikan kepada orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat tertentu. Pandangan semacam ini saya kira tidak hanya khas Islam, tapi juga ada pada beberapa masyarakat tradisional yang lain. Saya ingin menyebut hal ini sebagai “kosmologi mistis-feodal“.
Aura “kesucian” buku ini juga ditandai dengan beberapa hal lain. Dalam halaman yang sama, misalnya, Syekh Ali al-Buni mengatakan bahwa siapapun tak boleh “menyentuh “bukunya ini kecuali dalam keadaan suci (wa la tamussahu illa wa anta thahirun). Ilmu yang termuat dalam buku ini bukan ilmu normal, tetapi ilmu yang sangat khusus, dan karena itu harus diperlakukan secara khusus pula.
Yang menarik adalah Syekh al-Buni memakai isitilah “menyentuh”. Bagaimana istilah itu harus dipahami dalam konteks dunia digital? Teks buku al-Buni itu sekarang sudah berubah dalam bentuk file PDF yang melayang-layang secara bebas di dunia virtual. Apakah anda harus bersuci dulu saat mau membuka komputer untuk meng-akses data buku tersebut?
Penemuan mesin cetak Guttenberg dan teknologi digital saat ini telah mengubah konsep masyarakat tentang buku dan teks. Secara umum telah terjadi semacam “sekularisasi teks” melalui demokratisasi akses kepada buku. Aura kemisteriusan sebuh buku menjadi hilang sama sekali. Apakah ini bagian dari “hilangnya pesona dunia” (disenchantment of the world) seperti pernah disebut oleh Weber itu?
Kosomologi seperti tergambar dalam buku ini mungkin sudah tak dikenal lagi oleh kalangan santri atau umat Islam pada umumnya saat ini. Mereka tentu akan menganggap buku ini sebagai semacam “klenik” atau “superstition“. Kosmologi Kopernikan atau Newtonian lebih menarik bagi umat Islam sekarang. Dalam konteks kosmologi modern ini, buku seperti Syamsul Ma’arif al-Kubra sudah kelihatan aneh.[]